Login Anggota

Menu PramZ

Prama Menu

Serba Serbi

Yang Online

Saat ini terdapat 1 pengunjung online

Live Mambo Chat

Siapa Yg Ngobrol ?

Cerita-Cerita pendakian... camping... and much more... Cetak E-mail

EKSPEDISI MT. GEDE

Akhir tahun 2001, kami berempat (Sule, Andi, Rabun dan Thole) telah merencanakan akan melakukan pendakian gunung Gede dengan harapan ingin merasakan Tahun baru di Puncak gunung...seru kali yaa...!!

29 Desember 2001 Perjalanan kami dimulai dari Pondok Labu dengan menggunakan angkot 02 kami menuju Stasiun Lenteng Agung. Di stasiun LA Hampir setengah jam lebih kami menunggu kereta jurusan Jakarta-Bogor, lelah kami menunggu akhirnya kereta itu datang juga dan hal ini membuat Thole jingkrak-jingkrak kegirangan karena baru pertama kali naik kereta. Kereta yang penuh sesak ditambah dengan aroma penumpang yang tidak sedap kami halau dengan bercanda ria.

Sesampainya di Bogor kami langsung naik angkot kearah Sukasari dan dari Sukasari perjalanan kami lanjutkan dengan naik angkot ke arah Ciawi. DiCiawi kami menunggu kendaraan yang akan membawa kami ke Cianjur tepatnya kami berhenti di Pasar Cipanas. Perjalanan kami telah menghabiskan waktu sekitar 4 jam. Dari Pasar Cipanas kami langsung naik angkot yang menuju Pos gunung Putri yang memakan waktu sekitar 15 menit dan saat itu sudah sore sekitar pukul 18.00 wib. karena sedikit cape diperjalanan dan beban yang kami bawa kami beristirahat sejenak, kebetulan saat itu sudah ada beberapa rombongan pendaki yang juga akan naik sore itu. Perjalanan kami lanjutkan setelah kondisi mulai stabil walaupun saat itu udara dingin telah menyelimuti tubuh kami.

Di Pos Penjagaan kami langsung lapor diri dengan Volunteer dan melanjutkan perjalanan yang sebenarnya. Tidak jauh dari Pos Penjagaan kami mampir sejenak di sebuah warung kopi dan menghangatkan badan kami dengan minum teh hangat dan makan pisang goreng. Saat itu pukul 20.00 WIB kami menyaksikan suasana malam kota cianjur yang sangat indah dan pesta kembang api walaupun Tahun baru belum tiba. Gelapnya malam dan dinginnya udara pegunungan membuat kami bersemangat melanjutkan perjalanan yang melewati perkebunan penduduk dan tanpa terasa kami telah berada di Pos Tanah Merah. Kembali kami beristirahat sejenak karena tempat kami berhenti sepertinya nikmat sekali untuk melepaskan rasa lelah, dan entah mengapa kami tak berdaya saat membaringkan tubuh kami ditempat itu. Akhirnya kami putuskan untuk bermalam ditempat itu. Mungkin karena pengaruh perjalanan dari Jakarta dan yang membuat kami lelah dan dinginnya udara malam yang membuat kami terasa cape sebelum ngetrek. Pukul 07.00 pagi sang mentari tersenyum dengan ramahnya dan hentakan langkah para pendaki lainnya yang membuat kami mulai bangun satu persatu dan selain itu juga karena salah satu dari kami ada yang membuang gas beracun didalam tenda dan kami yakin perbuatan tercela itu dilakukan oleh Thole karena cuma dia yang tidak merasakan gas beracun tersebut...dasar bocah gemblung...!!!

Pukul 08.00 wib kami sudah bersiap-siap untuk ngetrek, Pos pertama yang kami singgahi adalah Pondok Tua yang dulunya adalah Pos Penjagaan, tapi kondisinya sudah sangat rusak dan menyeramkan. Kamipun terpaksa berhenti di Pos tersebut karena butiran air hujan mulai membasahi pegunungan. Cukup lama hujan yang cukup deras menerpa bumi dan kamipun enggan untuk beranjak dari Pondok tersebut, walaupun ada sebagian pendaki lainnya yang nekat berjalan dengan kondisi hujan. Setelah hujan reda kami lanjutkan perjalanan dengan kondisi medan yang basah dan licin dengan harapan kami akan segera sampai dipuncak sebelum malam. Shelter demi shelter kami lewati dan sesekali kami istirahat menghilangkan haus selama berjalan. Di shelter yang dikenal dengan nama Buntut Lutung kamipun sempat beristirahat, karena cuaca mendung dan akan turun hujan akhirnya kami lanjutkan perjalanan melewati tanjakan yang curam dan terjal, saat melewati tanjakan tersebut hujan turun dengan derasnya sehingga kami harus mengeluarkan senjata darurat berupa Ponco apalagi saat itu malam mulai datang menyapa...sehingga kami terpaksa mempercepat langkah kami.

Rasa takut dan cemaspun hilang ketika gerbang alun-alun surya kencana mulai terbuka dan terlihat jelas, kamipun segera mencari lokasi untuk berkemah karena cuaca dingin dengan suhu nol derajat celcius yang menusuk tulang dan membuat beku tubuh kami selama dalam perjalanan di alun-alun surya kencana. Pukul 18.00 wib dengan sisa tenaga Kamipun langsung mendirikantenda dan memasak air untuk menghangatkan badan. Kami berempat langsung terlelap tidur karena sudah cape dan lelah. Malam yang semakin dingin membuat Thole menggigil kedinginan karena dia baru pertama kali naik gunung. Namun perbuatannya membuang gas sembarangan apalagi di dalam tenda tetap saja dilakukannya...kamipun cuek aja karena kami juga sudah lelah dan mengantuk...! Saat pagi tiba kami semua terbangun dan segera keluar dari peraduan kami karena kami ingin menghirup udara pagi walaupun cuaca dingin masih menyelimuti tubuh kami...!! Pukul 08.00 WIB kami bertiga ( Sule, Andi, Thole ) naik ke Puncak Gunung Gede dengan waktu perjalan sekitar 1 jam perjalanan. Ditengah perjalanan menuju Puncak 2 rekan Saya ( Andi dan Thole ) mendadak ingin buang air besar dan merekapun akhirnya mencari tempat yang aman untuk bersembunyi dan membuang hajat.

Andi selesai lebih dulu dan Thole sempat bingung karena lupa jalan kembalinya sehingga dia berteriak-teriak seperti orang utan, maklum Thole itu baru pertama kali mengenal hutan belantara dan gunung rimba sehingga perlu beradaptasi lebih lama...!!!
Sesampainya di puncak kami melihat pemandangan yang begitu dahsyat indahnya dengan kawahnya yang berkabut dan cantik membuat kami ingin berlama-lama ditempat itu...! Setelah istirahat sejenak dan mengambil beberapa jepretan kamipun kembali turun ke alun-alun surya kencana. Suasana memang sangat ramai terlihat dengan banyaknya tenda-tenda yang terhampar sepanjang alun-alun. Bahkan keramaian juga diwarnai dengan peledakan petasan yang dibawa oleh sebagian pendaki. Peristiwa mengerikan dan lucu terjadi ketika salah satu tenda pendaki terbang terbawa angin gunung... dan kamipun tertawa melihat peristiwa yang menghebohkan dunia pendakian. Cuaca yang kurang mendukung, akhirnya kami putuskan untuk kembali siang itu ke Jakarta mengingat kondisi perbekalan yang kian menipis. Kami segera bersiap dan turun melewati jalur yang sama dan sempat bergaya mengambil gambar diantara tumbuhan edelweis yang terhampar luas di alun-alun. Sampai diPos Penjagaan sekitar pukul 17.00, lebih cepat dari saat naik ke puncak yang hampir memakan waktu satu hari penuh. Kami sempat mampir diwarung untuk makan dan minum sambil menghilangkan rasa pegal, setelah itu kami langsung naik angkot ke Pasar Cipanas. Dalam perjalanan pulang kami berunding untuk bermalam di Bogor tempat kediaman saudaranya Thole karena kondisi cuaca yang hujan terus menerus.

Malam tahun barupun kami lewati dengan tidur, dan kami kembali ke Jakarta dengan beribu canda diperjalanan.